Pengunjung Ancol Diajak Cintai Elang Jawa, Taman Safari Bogor Kenalkan Jelita dan Parama
By Editor Bogor II
bogorpromo  |  Sat - January 28, 2023 10:13 am  |  Article Hits:8932  |  A+ | a-
Sosialisasi 'Cintai Elang Jawa' oleh Tim LS Taman Safari Bogor di Ancol. (*)
Sosialisasi 'Cintai Elang Jawa' oleh Tim LS Taman Safari Bogor di Ancol. (*)
BOGOR- Menjelang acara pelepasliaran dua ekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yakni Jelita (betina) dan Parama (jantan), Tim Learning and Sains (LS) Taman Safari Bogor melakukan giat sosialisasi ke sejumlah titik di Jabodetabek. Salah satu titik yang menjadi sentrum kampanye gerakan ‘Cintai Elang Jawa’ adalah Ancol.

“Kami perkenalkan Elang Jawa sebagai salah satu satwa kebanggaan Indonesia kepada masyarakat Ibu Kota. Salah satu fakta menarik dari kegiatan sosialisasi ini adalah masyarakat Indonesia ternyata baru tahu jika lambang negara Garuda Pancasila diinisiasi dari satwa Elang Jawa,” ungkap Manager Edukasi Taman Safari Bogor, Rina Rajagukguk, Sabtu (28/1/12023).


Kegiatan sosialisasi gerakan ‘Cintai Elang Jawa’ ini merupakan rangkaian menuju acara puncak pelepasliaran Jelita dan Parama yang rencananya akan digelar pada Senin, 30 Januari 2023 di Villa Hijau Safari Resort Taman Safari Bogor.
Kedua ekor Elang Jawa ini merupakan hasil captive breed yang dilakukan PSSEJ dan Taman Safari Bogor dengan dukungan penuh PT Smelting.

Jelita merupakan hasil indukan Elang Jawa (Rizka dan Hanum) yang menetas telurnya pada 14 Oktober 2020. Bobot pertama Jelita saat menetas kala itu adalah 49,4 gram. Artinya, kini usia Jelita saat dilepasliarkan sudah menginjak 2 tahun 4 bulan.
Sementara Parama merupakan hasil indukan Elang Jawa (Rama dan Dygtha) yang menetas di Balai TNGHS pada 8 Juli 2020. Artinya, usia Parama saat dilepasliarkan saat ini sudah menginjak 2 tahun 7 bulan.

Proses perawatan, pemeliharaan serta penjagaan kedua satwa yang dilindungi oleh Peraturan Menteri LHK Nomor 106/2018 ini dilakukan secara intensif oleh Taman Safari Bogor dan didukung penuh oleh PT. Smelting, KLHK, PSSEJ, TNGHS dan TNGGP. Setidaknya selama 2 tahunan inilah proses perawatan serta pemeliharaan dilakukan dengan monitoring ketat.


Rencananya, setelah dilepasliarkan ini, Jelita dan Parama tetap akan tetap menjalani monitoring melalui alat deteksi selama 6 bulan ke depan. Langkah ini diambil untuk mendeteksi kondisional kedua satwa langka kebanggaan Indonesia ini di alam bebas.
Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat yakni Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo (Alas Purwo). Namun penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.

Elang jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 mdpl.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai habitat hidupnya.

“Taman Safari Bogor, KLHK, PSSEJ, TNGHS dan TNGGP dengan dukungan PT. Smelting mengambil langkah menjaga eksistensi dan populasi Elang Jawa karena kawasan Gunung Halimun Salak dan Gunung Gede Pagrango merupakan salah satu kawasan endemik mereka,” ungkap General Manager (GM) Taman Safari Bogor, Emeraldo Parengkuan, Sabtu (28/1/2023). (*)
 
(Humas TSI Bogor/*)

#TamanSafariIndonesia #TSIBogor 
#PiknikBogor #WisataBogor 
#DestinasiBogor #WisataPuncak
#ElangJawa #CintaiElangJawa
COMMENTS (0)
CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Refresh Image
Please, type the capital of United Kingdom below to prove you are not a spambot?
*
* - Required fields
Top