Di Balik Kecantikan Burung dari Surga
By Fajar
IND  |  Fri - March 6, 2020 3:35 am  |  Article Hits:153  |  A+ | a-
Kita patut berbangga dengan kekayaan flora dan fauna asli Indonesia. Bagaimana tidak? Dari Sabang sampai Merauke, pasti ada saja flora dan fauna yang bisa dibanggakan. Di ujung timur Indonesia, ada satwa nan cantik yang dijuluki ‘Burung dari Surga’, yakni cenderawasih.

Tak ada yang menyangkal betapa cantiknya burung cenderawasih. Dengan kecantikan bulunya tersebut, cenderawasih pun menjadi daya tarik dan ikon Papua. Cenderawasih atau Paradisaeidae dari ordo Passeriformes, dapat ditemui di Papua, Papua Nugini, Pulau-Pulau Selat Torres, dan Australia bagian Timur. Ada 43 spesies cenderawasih, sebanyak 30 di antaranya ada di Indonesia bagian timur. Namun, kebanyakan orang hanya mengenal satu spesies cenderawasih, yakni Cenderawasih Kuning Besar atau Paradisaea apoda.

Ada beberapa hal menarik dari burung yang juga dijuluki ‘Bidadari dari Surga’ ini;
  1. Warna bulu yang cerah
Cenderawasih dikenal dengan warna-warna bulunya yang cerah, seperti kuning, merah, biru, dan hijau. Biasanya penamaan cenderawasih disesuaikan dengan warna dominan yang ada di tubuhnya. Misal, Cenderawasih Kuning Besar, maka cenderawasih tersebut berukuran agak besar dengan warna dominan kuning pada ekor dan sebagian tubuhnya.
  • ​Burung penyendiri (soliter)
Cenderawasih adalah burung penyendiri. Ia tidak hidup berkelompok. Cenderawasih hanya akan berkumpul jika sudah memasuki musim kawin. Saat musim kawin inilah, sang pejantan akan memamerkan keindahan bulunya untuk menarik perhatian betina. Selain itu, pejantan juga akan bersenandung untuk merayu betina.
  • Warna bulu jantan lebih cerah
Pejantan memiliki warna bulu yang lebih cerah dan halus ketimbang betina. Sebab, keindahan bulunya tersebut digunakan untuk penarik betina saat musim kawin.
  • Sudah ada sejak 24 juta tahun lalu
Cenderawasih yang terbagi menjadi 14 genus dan 43 spesies, konon sudah ada sejak 24 juta tahun lalu. Menurut peneliti, cenderawasih termasuk ke dalam hewan purba yang mampu bertahan hingga sekarang.
  • Dahulu menjadi hiasan dan diperdagangkan
Sekitar akhir abad 19 dan awal abad 20, cenderawasih marak diperdagangkan. Kala itu, bulunya yang indah dijadikan hiasan topi bagi para wanita bangsawan di Eropa. Masyarakat Papua juga sempat menggunakan bulu cenderawasih sebagai hiasan di pakaian adatnya.
  • Habitat asli di hutan lebat
Cenderawasih biasa ditemui di hutan lebat di Papua. Namun, sayangnya akibat perburuan yang dilakukan manusia, populasi cenderawasih kian menurun. Kini, Burung dari Surga ini termasuk ke dalam satwa yang dilindungi dan tak boleh diperdagangkan. (FJR)
COMMENTS (0)
CAPTCHA Image
Play CAPTCHA Audio
Refresh Image
Please, type the capital of United Kingdom below to prove you are not a spambot?
*
* - Required fields
Top