Begini Proses Pemberian Pakan Satwa di Taman Safari Bogor!
By Fajar
IND  |  Fri - August 2, 2019 3:11 am  |  Article Hits:1166  |  A+ | a-
Jangan pernah mengira satwa-satwa di seluruh unit Taman Safari Indonesia (TSI) Group tidak diperhatikan dengan baik. Sebab, segala kebutuhan satwa dipenuhi, termasuk salah satunya adalah pakan.

Salah satu contohnya di Taman Safari Bogor. Jika Anda berkesempatan berkunjung ke sini, cobalah sesekali perhatikan saat jam makan satwa. Petugas kami selalu memperhatikan seberapa banyak kebutuhan dan gizi dari masing-masing satwa. Total, ada sekitar 147 jenis pakan satwa yang disediakan Taman Safari Bogor, termasuk untuk herbivora dan karnivora.

Taman Safari Bogor sendiri memliki tiga gudang utama untuk menampung buah-buahan, rumput-rumputan (biji-bijian dan pelet), serta daging-dagingan atau ikan-ikanan.

Kebutuhan daging di Taman Safari Bogor sekitar 800 hingga 850 kg per hari atau 16 ton per bulan. Daging ini biasanya dikirim dari Australia. “Biasanya daging yang dijadikan pakan adalah daging kangguru atau kuda,” ujar Dodo Sugarda, Kepala Gudang Taman Safari Bogor. Sementara itu, khusus untuk herbivora, Taman Safari Bogor menghabiskan pakan berupa rerumputan dan buah-buahan sebanyak 16-18 ton per hari. Untuk buah-buahan, Taman Safari Bogor lebih banyak memanfaatkan pisang dan apel sebagai pakan satwa.               

Gudang akan selalu diisi dengan pakan yang datang dari supplier. Tentunya, kualitas pakan sudah lolos dari pemeriksaan oleh asisten kurator yang berwenang.      

Satwa karnivora biasanya diberi pakan sebanyak satu kali dalam sehari. Namun, itu tergantung dari jenis satwa. Dodo mencontohkan burung karnivora yang butuh diberi pakan rata-rata 10 kali dalam sehari, dikarenakan proses pencernaannya yang singkat. Kondisi ini berbeda dengan jenis reptil yang hanya diberi makan sekali dalam seminggu.  Yang bertugas dalam memberi makan satwa, tentunya adalah si keeper. Secara rutin, pakan biasanya akan diantarkan ke masing-masing exhibit satwa sesuai jadwal yang sudah ditentukan.   

Kuantitas dan jenis pakan yang diberikan kepada satwa merupakan hasil perhitungan dari dokter hewan Taman Safari Bogor. Sehingga, tak ada yang namanya satwa kekurangan gizi atau pun obesitas. Misalnya, satwa karnivora. “Kalau karnivora itu tidak boleh kegemukan,” ucap Dodo. Sebab, di habitat aslinya, satwa karnivora seperti singa dan harimau membutuhkan kecepatan saat menerkam mangsanya. Jika mereka kegemukan, tentu tak bisa memainkan peran sebagai predator yang mudah mengejar mangsa.

Menurut Dodo, sebutan kurus atau gemuk bagi satwa itu adalah relatif, tergantung dari jenis satwanya itu sendiri. “Tiap satwa masing-masing beda persepsi soal kurus atau gemuk, yang penting tidak terlihat tulang rusuk menonjol,” jelas Dodo. Seperti halnya manusia, obesitas atau kegemukan juga tidak baik bagi satwa. Sebab, obesitas tentunya akan menimbulkan penyakit.

Yang paling utama dan terpenting adalah kebutuhan gizi dan nutrisi tiap satwa sudah terpenuhi dengan baik. Perhitungan kebutuhan pakan masing-masing satwa dibuat dengan mempertimbangkan jenis dan bobot satwa tersebut. “Misalnya, harimau dengan berat badan 120 kg, maka melalui perhitungan nutrisinya, butuh sekitar 6-8 kg daging merah per hari,” papar Dodo.        

Untuk masing-masing satwa, kebutuhan pakannya dihitung juga berdasarkan tujuannya. Misalkan, untuk pertumbuhan dan perkembangan bagi anak satwa, tentu berbeda dengan kebutuhan untuk berkembang biak bagi satwa dewasa. Menurut Dodo pula, kualitas dari pakan satwa juga tetap dijaga, melalui pengawasan dari timnya. “Kami punya standar sendiri dan quality control,” ucap Dodo. Contohnya, tipe daging yang dijadikan pakan satwa karnivora adalah daging merah, yang sebenarnya bisa berasal dari satwa mana pun. Oleh karena itu, selalu dilakukan pemeriksaan yang intensif terhadap kondisi daging merah impor tersebut. Menurut Dodo, selama ini daging yang diimpor dari Australia berbentuk karkas atau masih menempel pada tulang.

Tak hanya manusia saja, satwa juga butuh yang namanya cemilan. Jadi, di luar pakan utama yang diberikan, ada makanan sampingan yang kerap diberikan kepada satwa. Namun, dengan catatan harus disesuaikan dengan berapa banyak kalori yang dibutuhkan oleh si satwa tersebut. Makanan berupa wortel yang biasa Anda berikan saat berkunjung ke Taman Safari pun dianggap sebagai bonus pakan bagi para satwa. “Jika sedang ramai pengunjung, dan si satwa mendapatkan banyak tambahan makanan, maka keeper pun akan mengurangi jatah pakan utama,” ujar Dodo.

Taman Safari Indonesia sebagai lembaga konservasi, memang berkewajiban menyediakan pakan dalam jumlah yang biasa dikonsumsi satwa di habitat aslinya. Misalnya begini, satwa jerapah sebenarnya sudah terbiasa mengonsumsi dedaunan yang tumbuh di benua Afrika. Namun, karena berada di TSI, maka pakannya pun dimanipulasi. Diberikanlah pakan dedaunan lain yang semirip mungkin dengan dedaunan di tanah Afrika. Yang pasti, kebutuhan dasar satwa-satwa di TSI Group benar-benar dipenuhi dan diperhatikan dengan baik. Sebab, dengan begitu diharapkan anak cucu kita masih bsa menyaksikan satwa-satwa nan eksotis pada masa mendatang. (fjr)
Top